Sigma 150-500mm – Getting The Hang of It

Juvenile White-Bellied Sea Eagle

My initial feeling of this lens was that it was a little heavy. But, after a few outings, the weightiness is now less of a concern. Either my hands have become stronger or that I am now more accustomed to it that it is out of my mind. In fact, during outings my mind is more on the job and to get it right. When there is no bird in sight I just put it aside.

Autofocus is quite fast if the subject is near the focus point during the initial framing and from then onwards locking on is a breeze. Otherwise the focusing mechanism will go hunting high and low. This is not good for shooting birds in flight. Almost impossible to get a lock on focus. I know that I can easily get a good and sharp pictures of birds by just visiting the aviary but somehow I just don’t like the idea. I prefer to shoot wild and free birds. It is more challenging and I get to learn more about them. I am now more interested in birds, so when I know a place where the not so common birds often seen, I shall keep note of it and will go for an outing to that place when I have the time and will to do it. If a place that I will be visiting, there are chances of eagles sighting, I shall bring along my Sigma telezoom lens.

Precision

My outings with the Sigma telezoom lens are still few, but I am now more than comfortable with it. Lugging it around for short distances with the camera attached, I just grip the tripod collar with my left hand. When I want to shoot, I lift it to eye level simultaneously lifting my right hand to grip the camera. As a precaution, the camera strap is wound around my wrist. With the weight of lens and camera resting on my left hand palm and four fingers gripping the tripod collar, the thumb is free to rotate the focusing ring. If during the initial framing the focus is totally out, I shall pull the focusing ring down (to infinity focus point) and then up clockwise. When the view is almost in focus, the shutter is then pressed halfway to let autofocus kicks in. The focusing method for BIF that I am experimenting now is continuous focus coupled with continuous frame exposure. Occasionally, I do have a hard time getting the bird almost into focus manually before letting the autofocus takes over and lock on. When this happened, I quickly swing the camera to focus elsewhere which is approximately about the same distance as the bird and then get back to the bird.

Heron at Lido Beach, Johor, Malaysia

All said, I have yet to get a good and sharp picture. I am still learning. After going through all of the pictures, I found that most of it were below 1/2000th shutter speed unless it had higher ISO. In fact many were below 1/1000th. I try not to use high ISO because I do not want the picture to be too noisy as I am not doing any serious post processing at the moment, just a little bit here and there. Now that my stock is growing and whether I like it or not, it has to be soon. One of the reasons I am not getting good and sharp pictures of the bird is probably that I was too excited as the case with the eagle seen here. I was on my way back to Tanjung Batu from an island in Riau, Indonesia. As I was waiting for the ferry at the pier, I saw two White-bellied Sea Eagles flying and at times very near just above my head that it filled the whole frame in the viewfinder. On checking the exif, some were at 150mm and few others at F11.

Egret at Lido Beach

One thing I want to mention about the Sigma 150-500mm telezoom lens is that the hood is not tightly fit. Just recently on my way from Penyalai to Tanjung Batu in Kepulauan Riau, Indonesia, I noticed a group of birds flying behind and following the ferry. I grabbed the camera, attached the Sigma telezoom lens and started shooting. Through the lens I saw the birds were looking down and occasionally dived down to the water. There was probably food for them found at the still water that sloped down just after the turbulence caused by the propeller. After indulging myself shooting the birds, I lowered the camera. I felt something hit my right foot. I looked and saw the hood bounced, landed at the edge of the deck and rolled into the sea. There goes my sigma lens hood. Is it just my Sigma lens hood that is not tight-fitting or all of the others too? On closer inspection of the mount system on the lens, there is a small mount near the edge of the groove slot probably for locking. I guess it needs more force turning the hood when attaching it. Anyway the hood itself is quite fragile. It is made of plastic, large and thin. If it is expensive, I shall go for metal from the independent accessories maker.

Advertisements

Rumah Melayu Bugis

Jalan menuju ke Pelabuhan Tanjung Batu

Zaman kanak-kanak ialah zaman yang manis walaupun ada juga pahitnya. Makan minum ditanggung, masih hijau tentang perihal kehidupan, ingatannya hanya bermain sahaja. Dari itu mereka perlu diawasi dan dididik agar tidak membuat perkara yang bukan-bukan.

Begitu juga saya, suatu masa dahulu saya juga termasuk dalam gulungan kanak-kanak. Banyak kenangan pahit dan manis yang masih segar dalam ingatan saya. Antara yang pahit ialah ketika mengejar kawan tak dapat lalu terlanggar bucu tembok. Akibatnya koyak dahi saya, terpaksa ke hospital untuk dijahit. Parutnya kekal sampai sekarang. Yang manisnya ialah mengingat kembali akan apa-apa yang saya lakukan pada masa itu. Kenangan manis yang menimbulkan keinginan saya untuk mencari rumah yang seperti rumah nenek saya dahulu di Kampung Hidayah, Lorong 21, Geylang, Singapura.

Gerai-gerai tepian jalan di Tanjung Batu ketika Supermoon mengambang

Dari bentuk yang asal, rumah nenek saya telah diperbesarkan dan ditambah lagi empat pintu. Tiga darinya disewakan dan yang satu lagi menjadi rumah bagi keluarga saya. Ianya terletak di tepi salah satu cabang dari Sungai Kallang. Dari belakang rumah, saya boleh ke rumah nenek melalui titian berpagar yang menyambung rumah keluarga saya dengan rumah nenek. Titian ini juga berfungsi sebagai bilek air kami, disinilah kami mandi. Ada satu lagi titian berpagar dari belakang rumah menghala ke tengah sungai di mana pada penghujungnya terdapat satu pondok. Pondok inilah tempat kami buang air samaada besar atau kecil. Kalau buang air besar ketika air surut ketepek bunyinya dan ketika air pasang plung bunyinya. Bunyi yang bergema dengan jelas di dalam pondok itu.

Sungai-sungai di Singapura bukanlah sungai yang sejati dalam erti kata sebenarnya. Ianya bukan dari air yang mengalir dari sumber-sumber mata air yang terdapat di gunung-ganang atau bukit-bakau. Malah ia saolah-olah rekahan di bumi yang bermula dari tepian pantai menusuk masuk ke dalam. Mungkin suatu masa dahulu ia sememangnya sungai yang sejati yang mana kini sudah mati dan tinggal hanya bekasnya sahaja. Oleh itu air sungai di belakang rumah akan naik dan turun mengikut pasang dan surutnya air laut. Jika air laut pasang besar, maka seluruh kawasan halaman kampung akan dipenuhi air. Ini menjadikan halaman kampung saolah-olah kolam renang yang besar. Ramai anak-anak kampung akan mandi, bermain dan berenang melainkan saya kerana dilarang ibu. Saya hanya duduk di tangga berandah rumah nenek melihat kawan-kawan yang lain mandi dan bermain dengan riangnya. Sesekali ada juga saya berjalan-jalan mengharung air.

Sewaktu air pasang penuh, selain dari ikan-ikan berenang kedalam ada juga najis-najis yang hanyut ke halaman kampung dan sesudah surut terdapat ada yang tertinggal. Ini menyebabkan anak-anak kampung ketika leka bermain, kadangkala terpijak najis ini (ini kenyataan yang saya tahu benar). Pernah suatu ketika dahulu seorang lelaki barat masuk kampung dan saat ia melihat air pasang penuh langsung mengucapkan, “Oh! High tide.” Ucapan ini telah menjadi bahan ketawa anak-anak muda kampung. Orang putih pun tahu, “Oh! Air tahi.”

Tidak terdapat banyak rumah seperti rumah nenek saya yang masih berdiri tegak, indah tersergam pada masa kini. Banyak yang sudah usang, dirubuhkan dan diganti dengan rumah baru yang tiada sama ciri-cirinya. Saya ingin mengambil kesempatan yang masih ada ketika ini untuk megambil gambar-gambar rumah yang ciri-cirinya sama dengan rumah nenek saya untuk disimpan sebagai kenangan dan juga sebagai rujukan. Banyak tempat sudah saya ziarahi di Johor-Riau, tetapi belum seluruh pelusuk, banyak yang tiada. Setakat ini saya hanya dapat menemui satu di Pontian, Johor, Malaysia. Di Kepulauan Riau pula setelah ke Singkep, Selayar, Lingga, Karimun dan Moro tiada saya temukan. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga saya ketemu dengan dua buah rumah di Sungai Sebesi (Sungai Besi), Pulau Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia. Inilah rumah orang-orang melayu suku bugis suatu ketika dahulu. Ciri-ciri penuhnya ialah:

1) Rumah panggung yang bertiang kayu,
2) Terdapat kayu melintang yang dipasakkan pada tiang-tiang itu dibahagian atas dekat dengan lantai,
3) Ia mempunyai berandah,
4) Tingkapnya labuh sampai ke lantai dan banyak jumlahnya.

Serkat, Pontian, Johor, Malaysia. Berandah di kiri terlindung. Ciri-ciri yang sangat serupa dengan rumah nenek saya termasuk papan dinding yang bertindih dan ketinggian tiang-tiangnya. Kayu yang melintang antara tiang-tiang itu kerap saya terantuk jika leka ketika keluar masuk kolong rumah. Anjung yang kelihatan melintang ialah tambahan yang baru bukan dari asal

Inilah kayu yang melintang pada tiang-tiang rumah di sebelah atas

Kayu yang melintang pada sebelah atas tiang-tiang rumah

Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Tiada berandah. Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Rumah usang. Selat Belia, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

 

Lanjutan: 28 Mac 2016

Sebagaimana yang disyurkan oleh Pak Arya dibahagian komentar artikel ini, saya telah pergi ke Pulau Bengkalis pada hari Jumaat yang lalu.  Belum pernah saya ke Pulau Bengkalis, inilah kali pertama.  Feri langsung terus ke Pulau Bengkalis boleh didapati di bandar Muar, Johor dan kota Melaka. Saya menggunakan laluan Muar-Bengkalis untuk pergi dan pulang megikuti laluan Bengkalis-Melaka.

Buat menjelajahi Pulau Bengkalis, saya telah mendapatkan khidmat Bapak Zainuddin dengan becakmotornya. Memang benar terdapat banyak rumah-rumah panggung lama di sana hanya hampir keseluruhannya tidak mempunyai ciri-ciri rumah melayu bugis seperti yang tertera di atas.  Walaubagaimanapun, alhamdulillah, saya tidak kecewa kerana saya ada berjumpa dengan satu rumah yang mempunyai ciri-ciri penuh tersebut.  Ianya terletak di Jalan Kelapapati Laut tidak jauh dari Masjid Istiqomah, Pulau Bengkalis.  Berkemungkinan juga ada lagi rumah-rumah seperti ini di tempat-tempat yang saya belum lewati.  Mungking di lain kesempatan jika ada dan tidak lupa juga untuk saya ucapkan terima kasih saya kepada Pak Arya, BarakAllah.

Inilah rumah yang terdapat di Jalan Kelapapati Laut, Pulau Bengkalis.

Kelapapati Laut

Jalan Kelapapati Laut, Pulau Bengkalis, Riau, Indonesia

 

Bapak Zainudding

Saya ucapkan terima kasih atas jasa bapak Zainuddin membawa saya menggelilingi Pulau Bengkalis

Moro – Salah Satu Daerah di Kepulauan Riau

Tanjung Balai

Di dalam usaha saya untuk mencari rumah melayu bugis, saya telah ke Moro, Karimun, salah satu kawasan di daerah Kepulauan Riau, Indonesia. Dari Singapura saya telah menuju ke Tanjung Balai dan bermalam satu hari di sana.
Terdapat banyak hotel di Tanjung Balai untuk dibuat pilihan. Esoknya pada pukul sepuluh saya check-out dan berjalan-jalan di pekan sambil menanyakan feri ke Moro. Pukul dua petang barulah saya berangkat ke Moro. Jeti untuk ke Moro berasingan dengan jeti (pelabuhan) besar di mana terdapat banyak feri-feri ke tempat-tempat yang jauh seperti Batam, Tanjung Pinang juga Malaysia dan Singapura. Feri ke Moro yang saya naiki kecil sahaja, boleh muat kira-kira dua puluhan penumpang. Ia digerakkan oleh empat enjin yang berkuasa tinggi. Dalam masa satu jam saja saya telah pun sampai ke Moro tempat asal isteri pertama datuk saya dari sebelah emak. (tambahan: 24 Jun 2012)  Datuk saya berasal dari Tanjung Batu dan nenek saya (isteri keduanya) dari Tanjung Balai.

Pekan Moro

Pekan Moro lebih kecil lagi dari pekan Tanjung Balai dan tidak terdapat banyak rumah-rumah penginapan di sini. Hotel Wisata Fajar Moro yang terletak dibelakang Masjid Al Aqsho tidak jauh dari pelabuhan besar Moro menjadi pilihan saya. Jangkanya saya hendak bermalam satu malam sahaja, tetapi oleh kerana terdapat banyak helang-helang di sini maka saya lanjutkan sampai dua malam. Sememangnya saya berminat untuk memetik gambar helang jika ada kesempatan.
Dalam perbualan saya dengan penduduk-penduduk tempatan, ternyata di Moro juga tiada rumah seperti yang saya cari. Satu-satunya yang tinggal telahpun diganti baru yang tidak sama.

Pelabuhan Moro

Kehampaan itu sedikit sebanyak diubati dengan hadhirnya helang-helang yang saya kira boleh tahan juga jumlahnya tetapi tidak sebanyak jumlah yang saya lihat di Daik, Pulau Lingga. Helang-helang di sini sama jenisnya dengan helang-helang di Daik. Istilah melayunya tidak saya ketahui tetapi di dalam bahasa Inggeris ia disebut Red-backed Sea Eagle atau lebih dikenali sebagai Brahminy Kite. Ada satu lagi jenis helang yang sesekali dapat saya lihat di sini yang mana tidak saya lihat di Daik tetapi saya melihatnya di Pulau Perhentian, Terengganu, Malaysia. Ianya berbadan putih, sayapnya di belakang (atas) berwarna hitam dan di bawah berwarna hitam dan putih. Istilah melayunya kalau tidak silap saya ialah Helang Laut atau Helang Hamba Siput (Helang Siput). Istilah Inggerisnya ialah White-bellied Sea Eagle.

Rumah di tepian pantai, Moro

Antara sebab terdapat banyak helang di sini ialah sebuah perusahaan menangkap dan mengekspot ikan. Dalam usaha mereka untuk membungkus ada ikan-ikan yang terjatuh ke laut atau ada yang tidak menjadi pilihan lalu di buang. Ikan-ikan ini lah yang menjadi salah satu sumber makanan kepada burung-burung helang selain dari menangkapnya sendiri. Pemandangan yang sangat menarik melihat helang-helang menjunam dan menyambar ikan yang berada di permukaan air.

Pada hari ketiga di Moro saya berangkat pulang ke Tanjung Balai pada pukul 11.30 pagi waktu tempatan. Perjalanan kali ini memakan masa lebih dari satu jam kerana ada beberapa tempat yang disinggah sebelum sampai ke Tanjung Balai. Juga ferinya lebih besar dan ianya menggunakan enjin disel. Saya bermalam lagi di Tanjung Balai. Pada pagi keesokannya sebelum pulang ke Singapura saya sempat menziarahi Air Terjun Pongkar, Pantai Pongkar dan Pantai Palawan.

Air Terjun Pongkar, Karimun

Pantai Pongkar, Karimun

Pantai Palawan, Karimun

Setelah ziarah check-out dari hotel pada pukul 12.00 tengahari. Minum teh diwarung bersebelahan hotel sebelum ke pelabuhan. Hari itu hari jumaat, penjual lontong ke masjid, jadi cuma minum sahaja. Tepat pukol 1.00 tengahari, bertolak ke pelabuhan untuk menaiki feri pulang ke Singapura.

Burung Helang Terlepas Ikan

Masjid Al Aqsho Moro. Kelihatan hotel di belakang