Dari Kulaijaya ke Makassar

Tulisan perkataan Bugis di pantai Losari

Tulisan perkataan Bugis di pantai Losari

Sudah lama saya pendamkan di hati hasrat untuk menziarahi tanah bugis di Sulawesi Selatan untuk melihat-lihat keadaan di sana.  Pada hari isnin minggu yang lalu tanggal 21 Januari 2013, saya telah berkesempatan untuk melakukannya dengan menaiki pesawat AirAsia dari Kuala Lumpur ke Makassar.  Lama saya menunggu untuk kesempatan ini, lebih kurang empat bulan lamanya.  Ini disebabkan saya sengaja mencari tambang yang murah yang boleh saya perolehi dari jadual-jadual penerbangan AirAsia.  Jadi sebagaimana biasa, untuk tambang yang murah terpaksalah kena booking awal-awal lagi demi mendapatkan promosi tambang murah yang disajikan sekali-sekala.

Pantai Losari memandan ke utara

Pantai Losari memandang ke utara

Makassar adalah nama yang baru.  Sebelum itu kota Makassar dikenali sebagai Ujung Pandang.  Saya lebih gemar pada sebutan Ujung Pandang kerana ia ada makna yang tersirat.  Walau apapun sebutan Ujung Pandang masih tetap ada yang menyebutnya.

Setibanya saya di Bandara Sultan Hasanuddin dan selepas pemeriksaan immigrasi dan kastam, saya langsung menaiki teksi ke kota Makassar dengan bayaran Rp 100,000.  Tujuan saya di Makassar ialah Losmen Semeru di Jalan Jampea dan setelah mendaftar nama dan buat bayaran saya ke bilek dan terus rihat tiada keluar kemana-mana pada malamnya.  Saya tidak terasa lapar waktu itu dan untuk minum memang saya ada bawa koleh, alat untuk masak air dan kopi tongkat ali.  Jangan salah faham, ianya juga berguna untuk mendatangkan tenaga dan menghilangkan rasa penat.

Pada keesokkannya saya pergi ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dengan menaiki teksi dari Makassar.  Di taman ini terletaknya air terjun Bantimurung.  Setelah sampai, saya tidak terus masuk ke taman malah saya duduk di salah satu warung yang ada di pintu masuk untuk minum secawan kopi dan makan makanan ringan yang dijual sambil berbual-bual dengan ibu pemilik warung itu.  Antaranya saya tanyakan kepadanya bagaimana hendak balik ke Makassar dengan menaiki Pete-pete (angkot kalau di lain daerah Indonesia).  Saya habiskan masa di sana dengan berjalan-jalan, mandi seketika, mengambil gambar pemandangan-pemandangan di sana dan juga rama-rama.  Memang salah satu sebab saya ke air terjun Bantimurung ialah untuk mengambil gambar rama-rama akan tetapi saya diberitahu ibu di warung tadi bahawa masa adanya banyak rama-rama ialah pada bulan Februari.  Jadi saya telah terawal sedikit.  Akan tetapi masih juga ada rama-rama yang jenisnya boleh dikira dengan sebelah tangan dan tidaklah saya pulang dengan tangan kosong.

Air terjun Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Rama-rama di air terjun Bantimurung

Rama-rama di air terjun Bantimurung

Setelah pukul tiga petang saya pun berangkat pulang ke Makassar dengan menaiki pete-pete ke Maros, dari Maros ke Daya dan dari Daya ke Makassar.  Berjalan dengan menaiki angkutan umum tidak sama dengan berjalan dengan menaiki bas-bas yang disediakan khas untuk para pelancong.  Lain rasanya, kita dapat berinteraksi dengan penduduk setempat dan merasakan apa-apa yang mereka lakukan.  Pada sebelah malam saya tidak kemana-mana hanya duduk di penginapan, rehat dan minum kopi sambil melihat kembali gambar-gambar yang dipetik siang tadi.

Pete-pete

Pete-pete

Pintu masuk ke makam Pengeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro

Saya telah menghabiskan masa pada hari-hari ketiga dan keempat dengan menziarahi makam Pangeran Diponegoro seorang pejuang yang menentang penjajah Belanda di pulau jawa.  Belanda telah membuat muslihat dengan berjanji untuk berdamai namum ia telah ditangkap langsung dibuang ke Sulawesi.  Setelah itu saya ke pelabuhan Paotere untuk melihat perahu-perahu bugis, Fort Rotterdam yang terdapat didalamnya bilek tahanan Pangeran Diponegoro, Pantai Losari dan Trans Mall serta Sentral.  Trans Mall ialah tempat perbelanjaan yang premium, saya ni  ‘budget traveller’ jadi tempat yang saya pergi untuk shopping adalah di Sentral dan ianya tidak jauh dari Losmen Semeru.

Bilek tahanan Pengeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Bilek tahanan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Perahu bugis atau Pinisi

Perahu bugis atau Pinisi

Becak bermotor & becak kayuh

Becak bermotor & becak kayuh

Kedai mini jual service handphone

Kedai mini jual service handphone

Ikan kering untuk dijual

Ikan kering untuk dijual

Petani menghantar hasilnya ke pasar

Petani menghantar hasilnya ke pasar

Trans Mall

Up-market shopping di Trans Mall

Kedai-kedai di Sentral

Saya shopping di sini Sentral namanya

Di Sentral ada jual baju...

Di Sentral ada jual baju, t-shirt, sepatu…

bling-bling dan sebagainya, macam-macam ada

bling-bling dan sebagainya, macam-macam ada

boleh makan bakso...

boleh makan bakso…

ikan bakar...

ikan bakar…

dan ada Sentral Plaza di sebelahnya

dan ada Sentral Plaza di sebelahnya

Pada petang hari Jumaat, hari kelima, saya berangkat pulang ke Kuala Lumpur.  Sebelumnya saya sempat juga menghabiskan sedikit waktu pada sebelah pagi pergi sekali lagi ke pelabuhan Paotere untuk mengambil gambar-gambar perahu bugis sekali lagi kerana gambar-gambar yang sebelumnya ada yang saya kurang puas dengannya.  Dari KL saya teruskan perjalanan pulang dengan menaiki keretapi malam dan sampai di Kulai pada pukul 5.15 pagi keesokkannya iaitu hari Sabtu.

Ruang dalam Bandara Sultan Hasanuddin

Ruang dalam Bandara Sultan Hasanuddin

Ini pertama kali saya ke Sulawesi Selatan.  Hanya meninjau-ninjau sahaja.  Biasanya kalau saya di Indonesia untuk makan saya akan kunjungi rumah makan masakkan Minang.  Tidak pula saya berjumpa yang berdekatan dengan penginapan saya.  Dengan itu saya makanlah apa-apa saja yang tergerak di hati, KFC, nasi goreng, roti dan sop konro, salah satu makanan tempatan yang terkenal itu.  Ia sebenarnya ialah sop tulang rusuk kambing.  Saya tidak mencuba coto makassar kerana isinya ialah dalaman lembu dan tidak semua dalaman lembu yang saya makan melainkan paru dan limpa yang digoreng berempah.  Kueh-kueh pun tidak ada banyak bezanya dengan yang di Malaysia rasanya.  Saya ada makan kueh dadah dan pulut panggang di warung kopi.  Jika ada lain kesempatan, akan saya luaskan perjalanan saya ke lain-lain daerah di Sulawesi dan ianya sudah tentu akan memakan waktu yang lebih sedikit dan sebelum itu kenalah saya buat reasearch agar perjalanan itu nanti akan berjalan dengan lancar.

Advertisements

South Sulawesi: Makassar aka Ujung Pandang

City of Makassar sign at Losari beach

City of Makassar sign at Losari beach

Makassar, formerly known as Ujung Pandang, is the capital city of the province of South Sulawesi, Indonesia.  It is the land of the Bugis, the largest group linguistically and ethnically in South Sulawesi.  There are Bugis Makassar, Bugis Bone, Bugis Soppeng, et cetera. Why the distinction?  Perhaps they want to be known by the region they belong to and there are a few regions in South Sulawesi (also Southeast Sulawesi) that speak the lingo with subtle differences.  As for me what I know is that it is the land of my maternal roots.  Which region?  I don’t know and I don’t speak the lingo, unless I could find houses that are quite similar to those Bugis houses that are found in the Johor-Riau area.  I know it exists.  If I am not mistaken, I once saw it in Indonesia national television TVRI.  It was quite similar except for the stilts that were higher than those in Johor-Riau and its boxy arrangement.

A Bugis house in Serkat, Pontian, Johor, Malaysia

A Bugis house in Serkat, Pontian, Johor, Malaysia

Pinisi at Paotere harbour

Motorised Pinisi. A non motorised have two masts

Bugis are well known for their seafaring skills.  They have reached far and wide.  Also, their boat, the Pinisi, is well known too.  It looks like a schooner but because of its larger front mast it could be termed resembling a ketch.  I read that the design was derived from the Dutch pinas of the early 17th century.  This left me guessing that what is left of the original Bugis boat is the art of making the boat itself and that boat building craft now can still be found in Bulukumba, a district in the southernmost tip of the peninsula province of South Sulawesi, Indonesia.

Pssst: One other thing about the Bugis, they (not all of them) are quite hot-tempered.

Last week I set foot for the first time in the land of my ancestors and spent five days in Makassar.  It was a short five days stay and not enough time to venture far and out except for Bantimurung-Bulusaraung National Park.  I stayed at Losmen Semeru in the northern part of the city near the Port of Makassar and spent most of the time covering the coastal areas from Paotere port in the north down to Trans Mall in the south. Here are the rest of the selected pictures.

Workmen repairing the bow of a Pinisi

Workmen repairing the bow of a Pinisi

The bow and anchors of the Pinisi

Bow and anchors of the Pinisi

Strong barefooted workmen loading goods into the hold of the Pinisi

Strong barefooted workmen loading goods into the ship’s hold

There are 2 types of becaks in Makassar, pedalled power and motorised

2 types of becaks in Makassar, pedal powered and motorised

Road leading away from Paotere port

Road leading away from Paotere port

Mini roadside convenience stall

Mini roadside convenience stall

Banana stall

Banana stall

Dried fish for sale

Dried fish for sale

Busy morning scene at a river near Paotere

Busy morning scene at a river near Paotere

Jalan Nusantara Baru next to Makassar port

Jalan Nusantara Baru next to Makassar port

Jalan Sulawesi

Jalan Sulawesi

Besides taxis and becaks there are Pete-pete (pronounced paytay-paytay)

Besides taxis and becaks there are Pete-pete (pronounced paytay-paytay) in Makassar

Rush hour traffic in Makassar

Rush hour traffic in Makassar

Buildings inside Fort Rotterdam

Buildings inside Fort Rotterdam

Museum in one of the buildings in Fort Rotterdam

One of two museums in Fort Rotterdam

Losari beach looking north

Losari beach looking north

One of the scultures at Losari beach

One of the sculptures at Losari beach car park

Drink stalls outside Fort Rotterdam

Drink stalls outside Fort Rotterdam

Food stalls across the road from Fort Rotterdam

Food stalls across the road from Fort Rotterdam

Premium shopping at Trans Mall

Premium shopping at Trans Mall

Being a backpacker I shop here at Sentral

Being a backpacker I shop here at Sentral

High and dry.  Looks like a makeshift offshore dock

High and dry. Looks like a makeshift offshore dock

Inside Sultan Hasanuddin Airport

Inside Sultan Hasanuddin Airport

DIY Camera Bag From Old Bags

Old bags

Old bags

I have a camera bag that I think is too big for traveling because I’m a backpacker.  I want a bag small enough to fit in my backpack so that I just have to toil just one bag when I’m on the journey to and return from the destination (ok maybe on the return leg there will be two bags, haha).  When I’m boarding a plane or when I’m at the destination, I will just carry the ‘new’ bag.  The bigger backpack will be checked-in luggage or left behind at the hotel when I go out for sight-seeing.  Also I want to allay myself and give the impression than I’m not carrying a bagful of photographic gears.

So begin the project.  Two old bags, one a small camera bag and the other a small haversack plus a sleeve for notebook retained from a discarded backpack are the main materials. First I glue the notebook sleeve onto the inside back of the haversack.  After that the bottom of the sack is padded with material from a camping mat. Next, unnecessary parts of the camera bag are stripped-off and the bag is then glued to the bottom of the sack and to the notebook sleeve.  That’s it, the project is as good as done.

Sleeve for notebook

Sleeve for notebook

Padding the base

Padding the base

Unnecessary parts stripped

Unnecessary parts stripped

After loading and testing, I decide to make a padded lid to cover the old camera bag to act as a separator since the long lens of the Sigma 150-500mm will be placed above it.

Load test

Lid/separator added

padded lid/separator added

All aboard

All aboard

Finally a bag within a bag with room to  spare.

Plenty of room

So for my next adventure, I’m all geared-up for landscape, birds and for this time especially, butterflies photography.

Street Photography: A Glimpse of Kulaijaya

1 City Hall

Kulaijaya City Hall building in the background

I was running some errands and I brought along the new toys to give it a test. Either I looked like one or behaved like one, I was asked twice, “In which paper it’s gonna be published?”  I just smiled, “Nahhh, it’s for my blog.”

The project was a short one and the shooting was spontaneous, little planning and not much thinking.  No post processing and editing except for the photograph of Kulai cowboy, which I had said to him that I would do some editing so that he could download it and print. The selected photographs were converted into tiff format using FastStone which were then imported into gimp, scaled down and converted into jpeg.  All pictures shot raw at F5.6 aperture priority auto exposure.

Kulai Mara Arcade

Kulai Mara Arcade

Pedestrian crossing

Pedestrian crossing

Convenience store

Convenience store

Bus stop and food vendor

Bus stop and food vendor

Another bus stop and free advertisement space

Another bus stop and free advertisement space on the phone booth compared to the pay service on the left

Kulai cowboy

Kulai cowboy

Up north

Up north

Westward

Westward

Down south

Down south

Looking out

Looking out

Hardware store

Hardware store

Good part and bad part

Good part and bad part

Mother and child

Mother and child

Flower garland man

Flower garland man

Crackers and preserved fruits

Crackers and preserved fruits