Perahu Bugis dan Rumah Bugis

Terminal pengangkutan di Bulukumba

Terminal pengangkutan di Bulukumba

Orang-orang bugis memang sudah terkenal dengan keahlian mereka mengharungi samudera, jauh mereka menjelajah sehingga sampai ke Madagascar.  Tidak kurang juga terkenalnya perahu-perahu layar yang mereka gunakan, apa yang disebut-sebut sebagai perahu bugis.  Ada dua jenis perahu bugis yang mereka gunakan mengharungi laut luas, yang besar di sebut Pinisi dan yang lebih kecil darinya dikenali sebagai Lambo Palari.  Bentuk perahu bugis masa kini mungkin sudah berubah dari yang asal kerana Pinisi sekarang ada mirip-mirip seperti Schooner.  Walau apapun, apa yang pasti ialah cara pembikinan perahu-perahu ini.  Kemahiran pertukangan yang masih kekal hingga kini dan boleh dilihat di Tana Beru, suatu kawasan yang terletak di bahagian pantai selatan Sulawesi Selatan, Indonesia.  Saya telah pergi menziarahi ke Tanjung Bira berjalan-jalan di sana sambil mengambil kesempatan untuk melihat pembikinan perahu-perahu bugis di Tana Beru.  Disamping itu saya juga memenuhi hasrat saya untuk melihat dan mengambil gambar akan rumah-rumah panggung tradisional orang-orang bugis di sana.  Rumah orang-orang bugis dahulu tingkapnya labuh sampai ke lantai dan banyak jumlahnya.

Lambo Palari (mungkin juga Pinisi – lihat nota dibawah) saiznya lebih kecil dari Pinisi yang kelihatan di depannya (latar belakang gambar ini)

Perahu dalam proses pembinaan di Tana Beru

Kelihatan pasak-pasak pada papan-papan masih belum di potong dan diratakan

Gerbang di jalan masuk ke limbungan perahu-perahu di Tana Beru

Rumah tradisional bugis di desa Darubiah

Rumah tradisional bugis di desa Darubiah

Yang ini agak lama di desa yang sama.  Rumah orang bugis tingkapnya labuh sampai ke lantai dan banyak jumlahnya

Ini di Tanjung Bira di sebelah lorong menuju ke penginapan Sunshine

Rumah bugis di Serkat, Pontian, Johor, Malaysia. Berandah di kiri terlindung oleh anjung (tambahan yang baru, bukan dari asal). Rumah orang-orang bugis di Johor-Riau sebeginilah rupanya suatu ketika dahulu

Tiang-tiang yang dipasakkan dengan kayu yang melintang adalah ciri utama persamaannya

Sesampainya di Makassar langsung saya teruskan perjalanan dengan menaiki teksi ke terminal Malengkeri untuk pengangkutan yang berupa Toyota Kijang/Unser ke Bulukumba dan menginap satu malam di Bulukumba.  Pada esoknya selepas sarapan saya bergegas ke terminal pengangkutan di Bulukumba untuk mendapatkan Pete-Pete ke Tanjung Bira.  Sebelum sempat masuk ke dalam kawasan terminal saya telah ditanya kemana tujuan saya lalu disuruh tunggu.  Tidak lama kemudian datang sebuah Toyota Unser mengambil saya dan masuk ke dalam terminal semula.  Pemandunya menghentikan kenderaan kemudian keluar menunggu penumpang-penumpang yang lain memenuhkan kereta sebelum berangkat.  Lama saya menunggu, sempat saya tidur.  Tidak mahu kehilangan masa saya bayar tambahan Rp100,000 dan meminta Haji Undang memulakan perjalanan ke Tanjung Bira.  Boleh saja ia mengambil penumpang di jalanan sekiranya ada.

Rumah-rumah di tepian jalan di Tana Beru

Rumah-rumah di tepian jalan di Tana Beru

Rumah-rumah di tepian jalan menuju ke Tg Bira

Di Tanjung Bira saya bermalam di Sunshine Guest House, sebuah penginapan di atas bukit yang memberi pemandangan luas ke laut bila duduk berehat di berandahnya.  Sarapan pagi yang dihidangkan berupa roti sandwich dan telor beserta kopi ataupun teh.  Saya telah menyewa sebuah motosikal untuk pergi ke Tana Beru, berjalan-jalan di kampung-kampung dan di sekitaran Tanjung Bira.  Banyak yang saya baca di Internet mengenai pembuatan perahu-perahu bugis menyatakan di Tana Beru.  Betul memang banyak terdapat kelompok-kelompok tukang-tukang perahu yang berasingan di sana dan bukan saja Pinisi atau Palari yang dibina malah perahu-perahu nelayan juga.  Akan tetapi di Tanjung Bira terdapat dua kumpulan tukang-tukang perahu dan perahu-perahu yang dibina skalanya bukan skala biasa malah luarbiasa.  Buat masakini ada dua buah perahu bugis yang besar sedang dalam proses pembinaan tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Bira.

Penginapan Sunshine Guest House di atas bukit

Penginapan Sunshine Guest House di atas bukit

Ada juga homestay di Tanjung Bira

Ada juga homestay di Tanjung Bira

Perahu Pinisi besaiz besar dalam pembinaan berhampiran dengan pelabuhan Tanjung Bira

Setelah siap badannya pembinaan seterusnya dilakukan terapung di pelabuhan

Pinisi-pinisi ini hampir siap

Pinisi-pinisi ini hampir siap

Hinggakan perahu kecil pun kelihatan menarik

Hinggakan perahu kecil pun kelihatan menarik

Pemandangan pelabuah Tanjung Bira

Pemandangan pelabuah Tanjung Bira

Perahu-perahu nelayan berlabuh di kawasan di sebelah kiri Pelabuhan Tanjung Bira

Selain dari aktivi-aktivi pantai di Tanjung Bira, ada juga disediakan pakej-pakej snorkeling dan meyelam oleh pihak-pihak yang tertentu, tanyakan saja.  Air lautnya jernih dan pantainya memiliki pasir yang memutih lagi halus dan tidak hairanlah kalau ianya dikenali oleh penduduk-penduduk tempatan dengan sebutan Pasir Putih.  Soal makanan saya rasa tidak menjadi masalah, sekurang-kurangnya ditepian jalan berhampiran pantai pun ada warung-warung menjual makanan ringan selain dari restoran-restoran di penginapan-penginapan yang besar.

Pantai Pasir Putih di Tanjung Bira

Pantai Pasir Putih di Tanjung Bira

Terdapat warung-warung makanan dan permainan-permainan laut

Lawatan saya ke Tanjung Bira singkat saja hanya tiga hari dua malam dan pada pagi hari ketiga tepat jam sepuluh pagi, saya teruskan perjalanan pulang ke Makassar.  Pengangkutan untuk pulang ke Makassar telah dipesan melalui Nini pemilik Sunshine Guest House.  Sangat menyenangkan.  Sekiranya ada yang ingin membuat round trip boleh juga teruskan perjalanan ke Pulau Selayar yang berada tidak jauh di selatan Tanjung Bira.  Dua perjalanan feri sehari di sediakan di pelabuhan, tengahari dan petang.  Perjalanan dari Pulau Selayar ke Makassar kemudian diteruskan dengan menaiki kapalterbang.

Penumpang-penumpang sedang keluar dari feri dan ada yang sedang masuk untuk menuju ke Pulau Selayar

Penumpang-penumpang sedang keluar dari feri dan ada yang sedang masuk untuk menuju ke Pulau Selayar

Nota:

Saya belum begitu faham tentang Lambo Palari. Yang saya tahu ianya lebih kecil dari Pinisi (Phinisi atau Pinisiq).  Perkara yang saya tidak faham ialah ada kenyataan menyatakan tiang layarnya hanya satu dan ini kelihatan bercanggah dengan kenyataan lain yang saya baca.  Palari = Pelari?  Bahagian depannya yang memotong air tipis tidak melebar (ini sudah pasti), dari itu maka untuk lari laju adalah dua tiang layar lebih baik dari satu.  Mungkin juga yang mempunyai satu tiang layar jenis yang bermotor seperti yang terdapat pada kebanyakan Pinisi-pinisi sekarang.

Catatan:

1. Di Bulukumba untuk pengangkutan dari Bulukumba ke Tanjung Bira boleh hubungi  Haji Undang di nombor Talipon  0813 5577 9258.

2. Untuk penginapan di Sunshine Guest House di Tanjung Bira hubungi Nini di nombor Talipon  0821 9093 1175.  Boleh juga tanyakan padanya untuk mendapatkan khidmat pangangkutan ke Tanjung Bira dan pulang dari Tanjung Bira.

Air Terjun Takapala, Balla Lompoa dan Anak-anak Sekolah

Air terjun Takapala

Air terjun Takapala

Saya telah berkesempatan untuk mendatangi air terjun Takapala di Malino, Sulawesi Selatan dengan tanpa dirancangkan.  Yang dirancangkan ialah air terjun yang lain ia itu air terjun Malino.  Kemudian kedengaran pula air terjun Lembanna dan akhirnya sampai di Takapala.  Alhamdulillah.  Rupa-rupanya di daerah Malino ada lima air terjun iaitu Takapala, Parang Bugisi, Lembanna, Malino dan Biroro (lihat di sini).  Mungkin di lain kesempatan jika ada.

sp

sawah padi di sekitaran air terjun Takapala

Dalam perjalanan pulang ke kota Makassar dari Malino, saya telah singgah di Museum Balla Lompoa di Gowa, yang berada di selatan kota Makassar.  Semasa di sana saya telah ditanya oleh anak-anak sekolah dengan hasrat yang tiada masalah bagi saya menunaikannya.  Yang mana diambil dengan memori masing-masing telah diserahkan dan yang ada pada saya diharapkan dapat dimuat-turun dari sini.

ballalompoa01

ballalompoa04

ballalompoa03

ballalompoa06

ballalompoa07

ballalompoa09

ballalompoa11

ballalompoa13

ballalompoa14

ballalompoa16

ballalompoa17

ballalompoa08

ballalompoa12

ballalompoa15

ballalompoa10

South Sulawesi: Tanjung Bira & Tana Beru

biraberu02

Tanjung Bira and Tana Beru are at the southern tip of the province of South Sulawesi, Indonesia. To get there one can take a seven-seater public transport, a locally produced Toyota Kijang or Unser, but packs eight and sometimes nine passengers at Malengkeri Terminal in Makassar to Bulukumba for Rp35,000.  Be prepared for four and a half hours trip with one stopover somewhere in the middle of the journey.  Then on continue the journey from Bulukumba to Tanjung Bira.  Pete-petes (pronounced Paytay-paytay) that ply the route from Bulumkumba to Tanjung Bira are few and less frequent.  If there is one, one have to wait for hours for it to be filled before leaving for Tanjung Bira.  The fare from Bulukumba to Tanjung Bira is about Rp10,000 to Rp15,000.  If you are with a group or you mind the wait, it is best to charter the whole transport for yourself or your group.  Simply multiply the fare by eight or nine and then bargain.  Call Haji Undang at telephone number 0813 5577 9258 if you are at Bulukumba and may wish to do so.  If I am not mistaken his vehicle is a seven-seater Toyota Unser.  The other alternative is to go to Tana Beru from Bulukumba, about halfway distance from Bulukumba to Tanjung Bira and then onward continue to complete the last part of the journey from Tana Beru to Tanjung Bira.

Haji Undang next to his vehicle on the left at Bulukumba transport terminal

Tanjung Bira has a nice little beach with fine white sands.  Finding a place to stay should be no problem except if one arrives at weekends or during the high seasons.  The water is clear and besides the normal beach activities, arrangement can also be made for snorkelling or diving tour.  There is a small harbour for a twice daily ferry trips to Pulau Selayar just south of Tanjung Bira, another alternative route to Tanjung Bira from the city of Makassar. There are daily flights from Makassar to Pulau Selayar and vice versa.

biraberu06

Sunset at Tanjung Bira beach

Dive centre at Tanjung Bira beach

Dive centre at Tanjung Bira beach

Tanjung Bira harbour

Tanjung Bira harbour

Passenggers disembark at harbour

Passenggers disembark at the harbour

Pinisis and outriggers

Pinisis and outriggers prahus at the harbour

One of the other attractions at Tanjung Bira is that you can rent a bike and go to Tana Beru to see the boatyards there that build the famous Bugis boat called the Pinisi.  Along the way you can see the architecture of the traditional wooden houses of the Bugis on stilts.  But the biggest surprise is still at Tanjung Bira where just not far away from the harbour there are two boatyards, little known to the outside world, that as of this writing are in the process of making a very huge Pinisi each.  One has already completed the hull part and is now floating at the harbour undergoing completion for the rest of the parts of the Pinisi.

The town of Tana Beru

The town of Tana Beru

Entrance to the boatyards at Tana Beru

Entrance to the boatyards at Tana Beru

One of the boatyards at Tana Beru

One of the boatyards at Tana Beru

Traditional bugis house at Darubiah village

An old traditional bugis house at Darubiah village

Huge Pinisi in the making at Tanjung Bira

Huge Pinisi in the making at Tanjung Bira

biraberu07

The woods for this Pinisi are very strong, dense and heavy known in the local lingo as Kayu Berlian (diamond wood). As seen in the picture it sinks in the water. Tanjung Bira harbour is in the background

biraberu12

Hull is done for these Pinisis and the rest will be completed here at the harbour

I visited both of these places late last month and stayed at Sunshine Guest House formerly known as Nini’s Guest House, a lovely little place atop a hill with a commanding view of the sea and the western end of the beach, for bed and breakfast.  You may contact Sunshine Guest House and book your lodging in advance.  It is possible to ask them to make arrangement for your transfer to Tanjung Bira.  A lot more less hassle than going there on your own accord unless you are of the adventurous type.  They do provide snorkelling tour but not diving tour as for the latter there is a dive centre near the beach.  One future package that Sunshine Guest House will be providing is spear fishing and the maximum number of participants is 2 paxs only.  Below is the contact number to call from outside Indonesia.

Sunshine Guest House, Tanjung Bira, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.  Call Nini at telephone number +62 821 9093 1175.

Sunshine Guest House

Sunshine Guest House atop the hill

Looking out to the sea from the hallway

Looking out to the sea from the hallway

View of Bira beach at the veranda

View of Bira beach at the veranda