South Sulawesi: Tanjung Bira & Tana Beru

biraberu02

Tanjung Bira and Tana Beru are at the southern tip of the province of South Sulawesi, Indonesia. To get there one can take a seven-seater public transport, a locally produced Toyota Kijang or Unser, but packs eight and sometimes nine passengers at Malengkeri Terminal in Makassar to Bulukumba for Rp35,000.  Be prepared for four and a half hours trip with one stopover somewhere in the middle of the journey.  Then on continue the journey from Bulukumba to Tanjung Bira.  Pete-petes (pronounced Paytay-paytay) that ply the route from Bulumkumba to Tanjung Bira are few and less frequent.  If there is one, one have to wait for hours for it to be filled before leaving for Tanjung Bira.  The fare from Bulukumba to Tanjung Bira is about Rp10,000 to Rp15,000.  If you are with a group or you mind the wait, it is best to charter the whole transport for yourself or your group.  Simply multiply the fare by eight or nine and then bargain.  Call Haji Undang at telephone number 0813 5577 9258 if you are at Bulukumba and may wish to do so.  If I am not mistaken his vehicle is a seven-seater Toyota Unser.  The other alternative is to go to Tana Beru from Bulukumba, about halfway distance from Bulukumba to Tanjung Bira and then onward continue to complete the last part of the journey from Tana Beru to Tanjung Bira.

Haji Undang next to his vehicle on the left at Bulukumba transport terminal

Tanjung Bira has a nice little beach with fine white sands.  Finding a place to stay should be no problem except if one arrives at weekends or during the high seasons.  The water is clear and besides the normal beach activities, arrangement can also be made for snorkelling or diving tour.  There is a small harbour for a twice daily ferry trips to Pulau Selayar just south of Tanjung Bira, another alternative route to Tanjung Bira from the city of Makassar. There are daily flights from Makassar to Pulau Selayar and vice versa.

biraberu06

Sunset at Tanjung Bira beach

Dive centre at Tanjung Bira beach

Dive centre at Tanjung Bira beach

Tanjung Bira harbour

Tanjung Bira harbour

Passenggers disembark at harbour

Passenggers disembark at the harbour

Pinisis and outriggers

Pinisis and outriggers prahus at the harbour

One of the other attractions at Tanjung Bira is that you can rent a bike and go to Tana Beru to see the boatyards there that build the famous Bugis boat called the Pinisi.  Along the way you can see the architecture of the traditional wooden houses of the Bugis on stilts.  But the biggest surprise is still at Tanjung Bira where just not far away from the harbour there are two boatyards, little known to the outside world, that as of this writing are in the process of making a very huge Pinisi each.  One has already completed the hull part and is now floating at the harbour undergoing completion for the rest of the parts of the Pinisi.

The town of Tana Beru

The town of Tana Beru

Entrance to the boatyards at Tana Beru

Entrance to the boatyards at Tana Beru

One of the boatyards at Tana Beru

One of the boatyards at Tana Beru

Traditional bugis house at Darubiah village

An old traditional bugis house at Darubiah village

Huge Pinisi in the making at Tanjung Bira

Huge Pinisi in the making at Tanjung Bira

biraberu07

The woods for this Pinisi are very strong, dense and heavy known in the local lingo as Kayu Berlian (diamond wood). As seen in the picture it sinks in the water. Tanjung Bira harbour is in the background

biraberu12

Hull is done for these Pinisis and the rest will be completed here at the harbour

I visited both of these places late last month and stayed at Sunshine Guest House formerly known as Nini’s Guest House, a lovely little place atop a hill with a commanding view of the sea and the western end of the beach, for bed and breakfast.  You may contact Sunshine Guest House and book your lodging in advance.  It is possible to ask them to make arrangement for your transfer to Tanjung Bira.  A lot more less hassle than going there on your own accord unless you are of the adventurous type.  They do provide snorkelling tour but not diving tour as for the latter there is a dive centre near the beach.  One future package that Sunshine Guest House will be providing is spear fishing and the maximum number of participants is 2 paxs only.  Below is the contact number to call from outside Indonesia.

Sunshine Guest House, Tanjung Bira, Bulukumba, South Sulawesi, Indonesia.  Call Nini at telephone number +62 821 9093 1175.

Sunshine Guest House

Sunshine Guest House atop the hill

Looking out to the sea from the hallway

Looking out to the sea from the hallway

View of Bira beach at the veranda

View of Bira beach at the veranda

Advertisements

Dari Kulaijaya ke Makassar

Tulisan perkataan Bugis di pantai Losari

Tulisan perkataan Bugis di pantai Losari

Sudah lama saya pendamkan di hati hasrat untuk menziarahi tanah bugis di Sulawesi Selatan untuk melihat-lihat keadaan di sana.  Pada hari isnin minggu yang lalu tanggal 21 Januari 2013, saya telah berkesempatan untuk melakukannya dengan menaiki pesawat AirAsia dari Kuala Lumpur ke Makassar.  Lama saya menunggu untuk kesempatan ini, lebih kurang empat bulan lamanya.  Ini disebabkan saya sengaja mencari tambang yang murah yang boleh saya perolehi dari jadual-jadual penerbangan AirAsia.  Jadi sebagaimana biasa, untuk tambang yang murah terpaksalah kena booking awal-awal lagi demi mendapatkan promosi tambang murah yang disajikan sekali-sekala.

Pantai Losari memandan ke utara

Pantai Losari memandang ke utara

Makassar adalah nama yang baru.  Sebelum itu kota Makassar dikenali sebagai Ujung Pandang.  Saya lebih gemar pada sebutan Ujung Pandang kerana ia ada makna yang tersirat.  Walau apapun sebutan Ujung Pandang masih tetap ada yang menyebutnya.

Setibanya saya di Bandara Sultan Hasanuddin dan selepas pemeriksaan immigrasi dan kastam, saya langsung menaiki teksi ke kota Makassar dengan bayaran Rp 100,000.  Tujuan saya di Makassar ialah Losmen Semeru di Jalan Jampea dan setelah mendaftar nama dan buat bayaran saya ke bilek dan terus rihat tiada keluar kemana-mana pada malamnya.  Saya tidak terasa lapar waktu itu dan untuk minum memang saya ada bawa koleh, alat untuk masak air dan kopi tongkat ali.  Jangan salah faham, ianya juga berguna untuk mendatangkan tenaga dan menghilangkan rasa penat.

Pada keesokkannya saya pergi ke Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dengan menaiki teksi dari Makassar.  Di taman ini terletaknya air terjun Bantimurung.  Setelah sampai, saya tidak terus masuk ke taman malah saya duduk di salah satu warung yang ada di pintu masuk untuk minum secawan kopi dan makan makanan ringan yang dijual sambil berbual-bual dengan ibu pemilik warung itu.  Antaranya saya tanyakan kepadanya bagaimana hendak balik ke Makassar dengan menaiki Pete-pete (angkot kalau di lain daerah Indonesia).  Saya habiskan masa di sana dengan berjalan-jalan, mandi seketika, mengambil gambar pemandangan-pemandangan di sana dan juga rama-rama.  Memang salah satu sebab saya ke air terjun Bantimurung ialah untuk mengambil gambar rama-rama akan tetapi saya diberitahu ibu di warung tadi bahawa masa adanya banyak rama-rama ialah pada bulan Februari.  Jadi saya telah terawal sedikit.  Akan tetapi masih juga ada rama-rama yang jenisnya boleh dikira dengan sebelah tangan dan tidaklah saya pulang dengan tangan kosong.

Air terjun Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Rama-rama di air terjun Bantimurung

Rama-rama di air terjun Bantimurung

Setelah pukul tiga petang saya pun berangkat pulang ke Makassar dengan menaiki pete-pete ke Maros, dari Maros ke Daya dan dari Daya ke Makassar.  Berjalan dengan menaiki angkutan umum tidak sama dengan berjalan dengan menaiki bas-bas yang disediakan khas untuk para pelancong.  Lain rasanya, kita dapat berinteraksi dengan penduduk setempat dan merasakan apa-apa yang mereka lakukan.  Pada sebelah malam saya tidak kemana-mana hanya duduk di penginapan, rehat dan minum kopi sambil melihat kembali gambar-gambar yang dipetik siang tadi.

Pete-pete

Pete-pete

Pintu masuk ke makam Pengeran Diponegoro

Makam Pangeran Diponegoro

Saya telah menghabiskan masa pada hari-hari ketiga dan keempat dengan menziarahi makam Pangeran Diponegoro seorang pejuang yang menentang penjajah Belanda di pulau jawa.  Belanda telah membuat muslihat dengan berjanji untuk berdamai namum ia telah ditangkap langsung dibuang ke Sulawesi.  Setelah itu saya ke pelabuhan Paotere untuk melihat perahu-perahu bugis, Fort Rotterdam yang terdapat didalamnya bilek tahanan Pangeran Diponegoro, Pantai Losari dan Trans Mall serta Sentral.  Trans Mall ialah tempat perbelanjaan yang premium, saya ni  ‘budget traveller’ jadi tempat yang saya pergi untuk shopping adalah di Sentral dan ianya tidak jauh dari Losmen Semeru.

Bilek tahanan Pengeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Bilek tahanan Pangeran Diponegoro di Fort Rotterdam

Perahu bugis atau Pinisi

Perahu bugis atau Pinisi

Becak bermotor & becak kayuh

Becak bermotor & becak kayuh

Kedai mini jual service handphone

Kedai mini jual service handphone

Ikan kering untuk dijual

Ikan kering untuk dijual

Petani menghantar hasilnya ke pasar

Petani menghantar hasilnya ke pasar

Trans Mall

Up-market shopping di Trans Mall

Kedai-kedai di Sentral

Saya shopping di sini Sentral namanya

Di Sentral ada jual baju...

Di Sentral ada jual baju, t-shirt, sepatu…

bling-bling dan sebagainya, macam-macam ada

bling-bling dan sebagainya, macam-macam ada

boleh makan bakso...

boleh makan bakso…

ikan bakar...

ikan bakar…

dan ada Sentral Plaza di sebelahnya

dan ada Sentral Plaza di sebelahnya

Pada petang hari Jumaat, hari kelima, saya berangkat pulang ke Kuala Lumpur.  Sebelumnya saya sempat juga menghabiskan sedikit waktu pada sebelah pagi pergi sekali lagi ke pelabuhan Paotere untuk mengambil gambar-gambar perahu bugis sekali lagi kerana gambar-gambar yang sebelumnya ada yang saya kurang puas dengannya.  Dari KL saya teruskan perjalanan pulang dengan menaiki keretapi malam dan sampai di Kulai pada pukul 5.15 pagi keesokkannya iaitu hari Sabtu.

Ruang dalam Bandara Sultan Hasanuddin

Ruang dalam Bandara Sultan Hasanuddin

Ini pertama kali saya ke Sulawesi Selatan.  Hanya meninjau-ninjau sahaja.  Biasanya kalau saya di Indonesia untuk makan saya akan kunjungi rumah makan masakkan Minang.  Tidak pula saya berjumpa yang berdekatan dengan penginapan saya.  Dengan itu saya makanlah apa-apa saja yang tergerak di hati, KFC, nasi goreng, roti dan sop konro, salah satu makanan tempatan yang terkenal itu.  Ia sebenarnya ialah sop tulang rusuk kambing.  Saya tidak mencuba coto makassar kerana isinya ialah dalaman lembu dan tidak semua dalaman lembu yang saya makan melainkan paru dan limpa yang digoreng berempah.  Kueh-kueh pun tidak ada banyak bezanya dengan yang di Malaysia rasanya.  Saya ada makan kueh dadah dan pulut panggang di warung kopi.  Jika ada lain kesempatan, akan saya luaskan perjalanan saya ke lain-lain daerah di Sulawesi dan ianya sudah tentu akan memakan waktu yang lebih sedikit dan sebelum itu kenalah saya buat reasearch agar perjalanan itu nanti akan berjalan dengan lancar.

South Sulawesi: Makassar aka Ujung Pandang

City of Makassar sign at Losari beach

City of Makassar sign at Losari beach

Makassar, formerly known as Ujung Pandang, is the capital city of the province of South Sulawesi, Indonesia.  It is the land of the Bugis, the largest group linguistically and ethnically in South Sulawesi.  There are Bugis Makassar, Bugis Bone, Bugis Soppeng, et cetera. Why the distinction?  Perhaps they want to be known by the region they belong to and there are a few regions in South Sulawesi (also Southeast Sulawesi) that speak the lingo with subtle differences.  As for me what I know is that it is the land of my maternal roots.  Which region?  I don’t know and I don’t speak the lingo, unless I could find houses that are quite similar to those Bugis houses that are found in the Johor-Riau area.  I know it exists.  If I am not mistaken, I once saw it in Indonesia national television TVRI.  It was quite similar except for the stilts that were higher than those in Johor-Riau and its boxy arrangement.

A Bugis house in Serkat, Pontian, Johor, Malaysia

A Bugis house in Serkat, Pontian, Johor, Malaysia

Pinisi at Paotere harbour

Motorised Pinisi. A non motorised have two masts

Bugis are well known for their seafaring skills.  They have reached far and wide.  Also, their boat, the Pinisi, is well known too.  It looks like a schooner but because of its larger front mast it could be termed resembling a ketch.  I read that the design was derived from the Dutch pinas of the early 17th century.  This left me guessing that what is left of the original Bugis boat is the art of making the boat itself and that boat building craft now can still be found in Bulukumba, a district in the southernmost tip of the peninsula province of South Sulawesi, Indonesia.

Pssst: One other thing about the Bugis, they (not all of them) are quite hot-tempered.

Last week I set foot for the first time in the land of my ancestors and spent five days in Makassar.  It was a short five days stay and not enough time to venture far and out except for Bantimurung-Bulusaraung National Park.  I stayed at Losmen Semeru in the northern part of the city near the Port of Makassar and spent most of the time covering the coastal areas from Paotere port in the north down to Trans Mall in the south. Here are the rest of the selected pictures.

Workmen repairing the bow of a Pinisi

Workmen repairing the bow of a Pinisi

The bow and anchors of the Pinisi

Bow and anchors of the Pinisi

Strong barefooted workmen loading goods into the hold of the Pinisi

Strong barefooted workmen loading goods into the ship’s hold

There are 2 types of becaks in Makassar, pedalled power and motorised

2 types of becaks in Makassar, pedal powered and motorised

Road leading away from Paotere port

Road leading away from Paotere port

Mini roadside convenience stall

Mini roadside convenience stall

Banana stall

Banana stall

Dried fish for sale

Dried fish for sale

Busy morning scene at a river near Paotere

Busy morning scene at a river near Paotere

Jalan Nusantara Baru next to Makassar port

Jalan Nusantara Baru next to Makassar port

Jalan Sulawesi

Jalan Sulawesi

Besides taxis and becaks there are Pete-pete (pronounced paytay-paytay)

Besides taxis and becaks there are Pete-pete (pronounced paytay-paytay) in Makassar

Rush hour traffic in Makassar

Rush hour traffic in Makassar

Buildings inside Fort Rotterdam

Buildings inside Fort Rotterdam

Museum in one of the buildings in Fort Rotterdam

One of two museums in Fort Rotterdam

Losari beach looking north

Losari beach looking north

One of the scultures at Losari beach

One of the sculptures at Losari beach car park

Drink stalls outside Fort Rotterdam

Drink stalls outside Fort Rotterdam

Food stalls across the road from Fort Rotterdam

Food stalls across the road from Fort Rotterdam

Premium shopping at Trans Mall

Premium shopping at Trans Mall

Being a backpacker I shop here at Sentral

Being a backpacker I shop here at Sentral

High and dry.  Looks like a makeshift offshore dock

High and dry. Looks like a makeshift offshore dock

Inside Sultan Hasanuddin Airport

Inside Sultan Hasanuddin Airport

Rumah Melayu Bugis

Jalan menuju ke Pelabuhan Tanjung Batu

Zaman kanak-kanak ialah zaman yang manis walaupun ada juga pahitnya. Makan minum ditanggung, masih hijau tentang perihal kehidupan, ingatannya hanya bermain sahaja. Dari itu mereka perlu diawasi dan dididik agar tidak membuat perkara yang bukan-bukan.

Begitu juga saya, suatu masa dahulu saya juga termasuk dalam gulungan kanak-kanak. Banyak kenangan pahit dan manis yang masih segar dalam ingatan saya. Antara yang pahit ialah ketika mengejar kawan tak dapat lalu terlanggar bucu tembok. Akibatnya koyak dahi saya, terpaksa ke hospital untuk dijahit. Parutnya kekal sampai sekarang. Yang manisnya ialah mengingat kembali akan apa-apa yang saya lakukan pada masa itu. Kenangan manis yang menimbulkan keinginan saya untuk mencari rumah yang seperti rumah nenek saya dahulu di Kampung Hidayah, Lorong 21, Geylang, Singapura.

Gerai-gerai tepian jalan di Tanjung Batu ketika Supermoon mengambang

Dari bentuk yang asal, rumah nenek saya telah diperbesarkan dan ditambah lagi empat pintu. Tiga darinya disewakan dan yang satu lagi menjadi rumah bagi keluarga saya. Ianya terletak di tepi salah satu cabang dari Sungai Kallang. Dari belakang rumah, saya boleh ke rumah nenek melalui titian berpagar yang menyambung rumah keluarga saya dengan rumah nenek. Titian ini juga berfungsi sebagai bilek air kami, disinilah kami mandi. Ada satu lagi titian berpagar dari belakang rumah menghala ke tengah sungai di mana pada penghujungnya terdapat satu pondok. Pondok inilah tempat kami buang air samaada besar atau kecil. Kalau buang air besar ketika air surut ketepek bunyinya dan ketika air pasang plung bunyinya. Bunyi yang bergema dengan jelas di dalam pondok itu.

Sungai-sungai di Singapura bukanlah sungai yang sejati dalam erti kata sebenarnya. Ianya bukan dari air yang mengalir dari sumber-sumber mata air yang terdapat di gunung-ganang atau bukit-bakau. Malah ia saolah-olah rekahan di bumi yang bermula dari tepian pantai menusuk masuk ke dalam. Mungkin suatu masa dahulu ia sememangnya sungai yang sejati yang mana kini sudah mati dan tinggal hanya bekasnya sahaja. Oleh itu air sungai di belakang rumah akan naik dan turun mengikut pasang dan surutnya air laut. Jika air laut pasang besar, maka seluruh kawasan halaman kampung akan dipenuhi air. Ini menjadikan halaman kampung saolah-olah kolam renang yang besar. Ramai anak-anak kampung akan mandi, bermain dan berenang melainkan saya kerana dilarang ibu. Saya hanya duduk di tangga berandah rumah nenek melihat kawan-kawan yang lain mandi dan bermain dengan riangnya. Sesekali ada juga saya berjalan-jalan mengharung air.

Sewaktu air pasang penuh, selain dari ikan-ikan berenang kedalam ada juga najis-najis yang hanyut ke halaman kampung dan sesudah surut terdapat ada yang tertinggal. Ini menyebabkan anak-anak kampung ketika leka bermain, kadangkala terpijak najis ini (ini kenyataan yang saya tahu benar). Pernah suatu ketika dahulu seorang lelaki barat masuk kampung dan saat ia melihat air pasang penuh langsung mengucapkan, “Oh! High tide.” Ucapan ini telah menjadi bahan ketawa anak-anak muda kampung. Orang putih pun tahu, “Oh! Air tahi.”

Tidak terdapat banyak rumah seperti rumah nenek saya yang masih berdiri tegak, indah tersergam pada masa kini. Banyak yang sudah usang, dirubuhkan dan diganti dengan rumah baru yang tiada sama ciri-cirinya. Saya ingin mengambil kesempatan yang masih ada ketika ini untuk megambil gambar-gambar rumah yang ciri-cirinya sama dengan rumah nenek saya untuk disimpan sebagai kenangan dan juga sebagai rujukan. Banyak tempat sudah saya ziarahi di Johor-Riau, tetapi belum seluruh pelusuk, banyak yang tiada. Setakat ini saya hanya dapat menemui satu di Pontian, Johor, Malaysia. Di Kepulauan Riau pula setelah ke Singkep, Selayar, Lingga, Karimun dan Moro tiada saya temukan. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga saya ketemu dengan dua buah rumah di Sungai Sebesi (Sungai Besi), Pulau Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia. Inilah rumah orang-orang melayu suku bugis suatu ketika dahulu. Ciri-ciri penuhnya ialah:

1) Rumah panggung yang bertiang kayu,
2) Terdapat kayu melintang yang dipasakkan pada tiang-tiang itu dibahagian atas dekat dengan lantai,
3) Ia mempunyai berandah,
4) Tingkapnya labuh sampai ke lantai dan banyak jumlahnya.

Serkat, Pontian, Johor, Malaysia. Berandah di kiri terlindung. Ciri-ciri yang sangat serupa dengan rumah nenek saya termasuk papan dinding yang bertindih dan ketinggian tiang-tiangnya. Kayu yang melintang antara tiang-tiang itu kerap saya terantuk jika leka ketika keluar masuk kolong rumah. Anjung yang kelihatan melintang ialah tambahan yang baru bukan dari asal

Inilah kayu yang melintang pada tiang-tiang rumah di sebelah atas

Kayu yang melintang pada sebelah atas tiang-tiang rumah

Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Tiada berandah. Sungai Besi, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

Rumah usang. Selat Belia, Kundur, Kepulauan Riau, Indonesia

 

Lanjutan: 28 Mac 2016

Sebagaimana yang disyurkan oleh Pak Arya dibahagian komentar artikel ini, saya telah pergi ke Pulau Bengkalis pada hari Jumaat yang lalu.  Belum pernah saya ke Pulau Bengkalis, inilah kali pertama.  Feri langsung terus ke Pulau Bengkalis boleh didapati di bandar Muar, Johor dan kota Melaka. Saya menggunakan laluan Muar-Bengkalis untuk pergi dan pulang megikuti laluan Bengkalis-Melaka.

Buat menjelajahi Pulau Bengkalis, saya telah mendapatkan khidmat Bapak Zainuddin dengan becakmotornya. Memang benar terdapat banyak rumah-rumah panggung lama di sana hanya hampir keseluruhannya tidak mempunyai ciri-ciri rumah melayu bugis seperti yang tertera di atas.  Walaubagaimanapun, alhamdulillah, saya tidak kecewa kerana saya ada berjumpa dengan satu rumah yang mempunyai ciri-ciri penuh tersebut.  Ianya terletak di Jalan Kelapapati Laut tidak jauh dari Masjid Istiqomah, Pulau Bengkalis.  Berkemungkinan juga ada lagi rumah-rumah seperti ini di tempat-tempat yang saya belum lewati.  Mungking di lain kesempatan jika ada dan tidak lupa juga untuk saya ucapkan terima kasih saya kepada Pak Arya, BarakAllah.

Inilah rumah yang terdapat di Jalan Kelapapati Laut, Pulau Bengkalis.

Kelapapati Laut

Jalan Kelapapati Laut, Pulau Bengkalis, Riau, Indonesia

 

Bapak Zainudding

Saya ucapkan terima kasih atas jasa bapak Zainuddin membawa saya menggelilingi Pulau Bengkalis

Moro – Salah Satu Daerah di Kepulauan Riau

Tanjung Balai

Di dalam usaha saya untuk mencari rumah melayu bugis, saya telah ke Moro, Karimun, salah satu kawasan di daerah Kepulauan Riau, Indonesia. Dari Singapura saya telah menuju ke Tanjung Balai dan bermalam satu hari di sana.
Terdapat banyak hotel di Tanjung Balai untuk dibuat pilihan. Esoknya pada pukul sepuluh saya check-out dan berjalan-jalan di pekan sambil menanyakan feri ke Moro. Pukul dua petang barulah saya berangkat ke Moro. Jeti untuk ke Moro berasingan dengan jeti (pelabuhan) besar di mana terdapat banyak feri-feri ke tempat-tempat yang jauh seperti Batam, Tanjung Pinang juga Malaysia dan Singapura. Feri ke Moro yang saya naiki kecil sahaja, boleh muat kira-kira dua puluhan penumpang. Ia digerakkan oleh empat enjin yang berkuasa tinggi. Dalam masa satu jam saja saya telah pun sampai ke Moro tempat asal isteri pertama datuk saya dari sebelah emak. (tambahan: 24 Jun 2012)  Datuk saya berasal dari Tanjung Batu dan nenek saya (isteri keduanya) dari Tanjung Balai.

Pekan Moro

Pekan Moro lebih kecil lagi dari pekan Tanjung Balai dan tidak terdapat banyak rumah-rumah penginapan di sini. Hotel Wisata Fajar Moro yang terletak dibelakang Masjid Al Aqsho tidak jauh dari pelabuhan besar Moro menjadi pilihan saya. Jangkanya saya hendak bermalam satu malam sahaja, tetapi oleh kerana terdapat banyak helang-helang di sini maka saya lanjutkan sampai dua malam. Sememangnya saya berminat untuk memetik gambar helang jika ada kesempatan.
Dalam perbualan saya dengan penduduk-penduduk tempatan, ternyata di Moro juga tiada rumah seperti yang saya cari. Satu-satunya yang tinggal telahpun diganti baru yang tidak sama.

Pelabuhan Moro

Kehampaan itu sedikit sebanyak diubati dengan hadhirnya helang-helang yang saya kira boleh tahan juga jumlahnya tetapi tidak sebanyak jumlah yang saya lihat di Daik, Pulau Lingga. Helang-helang di sini sama jenisnya dengan helang-helang di Daik. Istilah melayunya tidak saya ketahui tetapi di dalam bahasa Inggeris ia disebut Red-backed Sea Eagle atau lebih dikenali sebagai Brahminy Kite. Ada satu lagi jenis helang yang sesekali dapat saya lihat di sini yang mana tidak saya lihat di Daik tetapi saya melihatnya di Pulau Perhentian, Terengganu, Malaysia. Ianya berbadan putih, sayapnya di belakang (atas) berwarna hitam dan di bawah berwarna hitam dan putih. Istilah melayunya kalau tidak silap saya ialah Helang Laut atau Helang Hamba Siput (Helang Siput). Istilah Inggerisnya ialah White-bellied Sea Eagle.

Rumah di tepian pantai, Moro

Antara sebab terdapat banyak helang di sini ialah sebuah perusahaan menangkap dan mengekspot ikan. Dalam usaha mereka untuk membungkus ada ikan-ikan yang terjatuh ke laut atau ada yang tidak menjadi pilihan lalu di buang. Ikan-ikan ini lah yang menjadi salah satu sumber makanan kepada burung-burung helang selain dari menangkapnya sendiri. Pemandangan yang sangat menarik melihat helang-helang menjunam dan menyambar ikan yang berada di permukaan air.

Pada hari ketiga di Moro saya berangkat pulang ke Tanjung Balai pada pukul 11.30 pagi waktu tempatan. Perjalanan kali ini memakan masa lebih dari satu jam kerana ada beberapa tempat yang disinggah sebelum sampai ke Tanjung Balai. Juga ferinya lebih besar dan ianya menggunakan enjin disel. Saya bermalam lagi di Tanjung Balai. Pada pagi keesokannya sebelum pulang ke Singapura saya sempat menziarahi Air Terjun Pongkar, Pantai Pongkar dan Pantai Palawan.

Air Terjun Pongkar, Karimun

Pantai Pongkar, Karimun

Pantai Palawan, Karimun

Setelah ziarah check-out dari hotel pada pukul 12.00 tengahari. Minum teh diwarung bersebelahan hotel sebelum ke pelabuhan. Hari itu hari jumaat, penjual lontong ke masjid, jadi cuma minum sahaja. Tepat pukol 1.00 tengahari, bertolak ke pelabuhan untuk menaiki feri pulang ke Singapura.

Burung Helang Terlepas Ikan

Masjid Al Aqsho Moro. Kelihatan hotel di belakang