Dieng

Cover
It is said to be Abode of The Gods, Dieng is in Central Java, Indonesia. A piece of land 2093 metres above the sea level, in a word, it is a plateau. Actually it is a caldera, home to a few volcanic craters and lakes. Being high up in the sky and practically you can see the clouds below, it is cold. Cold enough that for the months of July and August, there can be morning frost that makes the local farmers worried as it has detrimental effect on their crops.

Recently I spent 3 days and 2 nights in Dieng observing its culture and spent some times photographing its landscapes and activities. There are so many interesting sites in Dieng, besides craters and lakes there are also ancient temples and caves. I did not cover them all, I was just scratching the surface. You need more time if you want to record all of it in pixels.

There are a few factors to consider in landscape photography and two of them are timing and patience. This recent trip, I did not had the luxury of timing nor do I had the patience to stay a long while. So, I took it as it was presented when I arrived at the site, or, when I saw an opportunity. Opportunity such as back lighting on farmers as they till the land or harvesting the fruits of their labour. Hopefully next time, if ever, I’m at least better informed and more aware, know what to do and what to expect, so as to maximise the time spent and be much more at ease when I’m there again mingling with the gods.

Advertisements

Ku Berkelana Pada Akhir Ramadhan 1436

Desa Dieng di daerah Wonosobo pada senja hari

Desa Dieng di daerah Wonosobo pada senja hari

Tahun ini teringin pula untuk ke pulau jawa dan duduk di sana beberapa hari pada akhir Ramadhan hingga sampai menjelang Syawal. Dapat juga aku melihat dan merasakan bagaimana umat Islam setempat menjalankan ibadah puasa dan merayakan ‘Idil Fitri. Aku merencanakan dua tempat untuk aku lawat dan singgah dalam perjalananku ini. Dua tempat ini ialah Dieng dan Tawangmangu. Dieng ialah kawasan dataran tinggi (Plateau) dan Tawangmangu berada di bahu Gunung Lawu.  Berada pada kedudukan 2093 meter dpl,  Dieng lebih tinggi dari Tawangmangu yang berada pada ketinggian 1200 meter dpl, dan sudah tentu cuacanya pun lebih dingin hinggakan boleh menyebabkan embun beku pada masa-masa tertentu.

Jalan Lawu menuju ke Gunung Lawu

Jalan Lawu menuju ke Gunung Lawu

Sekarang ini, aku berada di tanah jawa, dan ternyata tidak banyak bezanya dengan keadaan di semenanjung tetapi ada juga yang unik. Sebagaimana biasa, kalau di kampung-kampung akan kedengaran laungan pekikan “Sahur” dan “Imsak” apabila tiba waktunya, bezanya, di sini ada banyak masjid-masjid, ianya membuat keadaan menjadi sahut-menyahut antara satu dengan yang lain dan berpanjangan jadinya. Yang uniknya ialah sesuatu yang dilakukan di Dieng. Selain dari laungan sahur, dibunyikan siren pada waktu berbuka dan pada waktu imsak. Satu saja siren untuk semua penduduk di kawasan itu dan ini sudah tentunya dapat menyelaraskan waktu. Tergambar di benakku atas suatu perkara yang berlaku lebih kurang 55 tahun yang lalu. Ketika itu keluargaku menetap di tingkat atas barek polis Pearl’s Hill di Singapura. Waktu hampir maghrib, aku memandang akan bapaku yang sedang berdiri berbongkok sambil menongkatkan kedua siku lengannya di tembok pagar di balkoni bilek kami (satu bilek dan satu balkoni saja, dapur berhadapan rumah, apartment kiranya, di seberang lorong) merenung jauh sambil menunggukan kedengaran bunyi das tembakan meriam. Begitu cepat masa berlalu.

Salam dari seberang,

25 Ramadhan 1436.