Images of Moro, Riau Archipelago, Indonesia

Here are some of the pictures shot while I was visiting Moro, Riau Archipelago Province, Indonesia.

Harbour Front Ferry Terminal, Singapore

The Town of Tanjung Balai in Karimun

Pier in Tanjung Balai for the fast boat to Moro

Pier in Moro

The town of Moro. The white building is purpose built for swiflets to dwell so that they can harvest the nest

Brahminy Kite or Red-backed Sea Eagle

Intriguing

There are many of them

Shipping, I don't know the destination

This one I know

Exporting fish to Singapore

Houses behind the town street

Road leading away from Moro town

Stilt houses next to sea

Houses on neighbouring island

Low tide

Small fishing boats

A finished sampan ready for coating

Stilts

Transporting

One of the few penginapans or inns

View of Moro town from the sea

Ferry schedule

Advertisements

Moro – Salah Satu Daerah di Kepulauan Riau

Tanjung Balai

Di dalam usaha saya untuk mencari rumah melayu bugis, saya telah ke Moro, Karimun, salah satu kawasan di daerah Kepulauan Riau, Indonesia. Dari Singapura saya telah menuju ke Tanjung Balai dan bermalam satu hari di sana.
Terdapat banyak hotel di Tanjung Balai untuk dibuat pilihan. Esoknya pada pukul sepuluh saya check-out dan berjalan-jalan di pekan sambil menanyakan feri ke Moro. Pukul dua petang barulah saya berangkat ke Moro. Jeti untuk ke Moro berasingan dengan jeti (pelabuhan) besar di mana terdapat banyak feri-feri ke tempat-tempat yang jauh seperti Batam, Tanjung Pinang juga Malaysia dan Singapura. Feri ke Moro yang saya naiki kecil sahaja, boleh muat kira-kira dua puluhan penumpang. Ia digerakkan oleh empat enjin yang berkuasa tinggi. Dalam masa satu jam saja saya telah pun sampai ke Moro tempat asal isteri pertama datuk saya dari sebelah emak. (tambahan: 24 Jun 2012)  Datuk saya berasal dari Tanjung Batu dan nenek saya (isteri keduanya) dari Tanjung Balai.

Pekan Moro

Pekan Moro lebih kecil lagi dari pekan Tanjung Balai dan tidak terdapat banyak rumah-rumah penginapan di sini. Hotel Wisata Fajar Moro yang terletak dibelakang Masjid Al Aqsho tidak jauh dari pelabuhan besar Moro menjadi pilihan saya. Jangkanya saya hendak bermalam satu malam sahaja, tetapi oleh kerana terdapat banyak helang-helang di sini maka saya lanjutkan sampai dua malam. Sememangnya saya berminat untuk memetik gambar helang jika ada kesempatan.
Dalam perbualan saya dengan penduduk-penduduk tempatan, ternyata di Moro juga tiada rumah seperti yang saya cari. Satu-satunya yang tinggal telahpun diganti baru yang tidak sama.

Pelabuhan Moro

Kehampaan itu sedikit sebanyak diubati dengan hadhirnya helang-helang yang saya kira boleh tahan juga jumlahnya tetapi tidak sebanyak jumlah yang saya lihat di Daik, Pulau Lingga. Helang-helang di sini sama jenisnya dengan helang-helang di Daik. Istilah melayunya tidak saya ketahui tetapi di dalam bahasa Inggeris ia disebut Red-backed Sea Eagle atau lebih dikenali sebagai Brahminy Kite. Ada satu lagi jenis helang yang sesekali dapat saya lihat di sini yang mana tidak saya lihat di Daik tetapi saya melihatnya di Pulau Perhentian, Terengganu, Malaysia. Ianya berbadan putih, sayapnya di belakang (atas) berwarna hitam dan di bawah berwarna hitam dan putih. Istilah melayunya kalau tidak silap saya ialah Helang Laut atau Helang Hamba Siput (Helang Siput). Istilah Inggerisnya ialah White-bellied Sea Eagle.

Rumah di tepian pantai, Moro

Antara sebab terdapat banyak helang di sini ialah sebuah perusahaan menangkap dan mengekspot ikan. Dalam usaha mereka untuk membungkus ada ikan-ikan yang terjatuh ke laut atau ada yang tidak menjadi pilihan lalu di buang. Ikan-ikan ini lah yang menjadi salah satu sumber makanan kepada burung-burung helang selain dari menangkapnya sendiri. Pemandangan yang sangat menarik melihat helang-helang menjunam dan menyambar ikan yang berada di permukaan air.

Pada hari ketiga di Moro saya berangkat pulang ke Tanjung Balai pada pukul 11.30 pagi waktu tempatan. Perjalanan kali ini memakan masa lebih dari satu jam kerana ada beberapa tempat yang disinggah sebelum sampai ke Tanjung Balai. Juga ferinya lebih besar dan ianya menggunakan enjin disel. Saya bermalam lagi di Tanjung Balai. Pada pagi keesokannya sebelum pulang ke Singapura saya sempat menziarahi Air Terjun Pongkar, Pantai Pongkar dan Pantai Palawan.

Air Terjun Pongkar, Karimun

Pantai Pongkar, Karimun

Pantai Palawan, Karimun

Setelah ziarah check-out dari hotel pada pukul 12.00 tengahari. Minum teh diwarung bersebelahan hotel sebelum ke pelabuhan. Hari itu hari jumaat, penjual lontong ke masjid, jadi cuma minum sahaja. Tepat pukol 1.00 tengahari, bertolak ke pelabuhan untuk menaiki feri pulang ke Singapura.

Burung Helang Terlepas Ikan

Masjid Al Aqsho Moro. Kelihatan hotel di belakang

Capturing Eagles Images – My Experience

Homes in Moro just behind the main street

I got the chance to test the Sigma 150-500mm telezoom lens at Moro, Karimun, Kepulauan Riau, Indonesia. It was quite an experience. My trip to Moro was for other reason but I would take the chance if there was opportunity and indeed there were plenty of opportunities.

Red-backed Sea Eagle otherwise known as the Brahminy Kite

There are quite a number of eagles in Moro but not as much compare to those that I saw in Daik, Pulau Lingga, another island that is part of the Riau Province. They are the Red-backed Sea Eagle otherwise popularly known by its other name the Brahminy Kite. Occasionally, one or two adult White-bellied Sea Eagles could be seen mingled amongst them which I did not witnessed in Daik. One of the sources of food for the eagles in Moro is the processing and packing site of a fishing company which then export its products to Singapore. Fishes that are accidentally dropped into the sea or did not make the grade.

Since I am new to shooting birds, I did some searching to read up on tips or advice given by those professioanl BIF (Birds In Flight) photographers. Their tips are spot-on and from the experience that I had, I have my own conclusions too.

They are the majority

Make sure the sun is behind, very fast shutter speed and know when to call it a day, these are roughly what were said. I understood them well but to shoot wild and free eagles is not easy. First, you have to go to their playground or hunting ground. Second, you have to wait for them to fly near you. The chances are almost negligible if the eagles are uninterested in you. Third, you cannot get a good and sharp picture of eagle beyond certain distance. OS or no OS, a slight shake in your telelens movement is being magnified by the distance. The more the distance, the greater the shake will be unless your are panning or the eagle is very large.

I have solved the first part. I now know where to find them. It is the second and the third part that I think I need to barter with them eagles. Food in exchange for good pictures. So next time, probably chicken will be offered at a near distance.